Niat.

 

Hadits arba’in merupakan 40 hadits penting yang disusun oleh Imam An-Nawawi.

Hadits nomor 1 pada hadits arba’in:

“Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang berhijrah hanya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan.” (HR. Bukhari-Muslim)

Hadits tentang niat ini menjadi hadits nomor 1 di berbagai kitab hadits (hadits arba’in, shahih bukhari, shahih muslim, shahih bukhari-muslim, dsb.). Hal ini menunjukkan betapa pentingnya niat dalam setiap amal perbuatan. Niat dan amal ibarat ruh dan jasad. Niat tanpa amal mendapat pahala, amal tanpa niat adalah sia-sia.

Terkait hadits ini, disebutkan bahwa

“…Barangsiapa yang berhijrah hanya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan.”   

Mengapa jika ia niat hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya, sedangkan jika ia berniat hijrah karena dunia dan wanita, maka hijrahnya menuju yang ia inginkan? Di sini tidak disebutkan bahwa jika niatnya karena dunia dan wanita, maka ia menuju dunia dan wanita. Hal ini karena niat seseorang dapat berubah. Walaupun di awal niat hijrahnya adalah karena dunia dan wanita, bisa saja niatnya berubah menjadi hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, dan tetap terhitung bahwa hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya.

Niat mudah berubah. Setiap niat baik langsung dicatat dan mendapat 1 kebaikan, sedangkan niat buruk tidak dicatat sampai ia benar-benar melakukan perbuatan buruk tersebut. Pada level abstraksi tertinggi, niatkan setiap amal perbuatan baik kita hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Artinya, dalam setiap perbuatan, kita hanya melakukan hal-hal yang disukai Allah dan menghindari hal-hal yang dibenci Allah. Dalam setiap aktivitas kita, bertujuan untuk meninggikan kalimat Allah di muka bumi, menjaga tegaknya Islam di muka bumi. Mulai dari hal-hal kecil seperti mengingatkan muslim yang lain untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

Hijrah (pada zaman Rasulullah) berarti perpindahan dari Mekkah ke Madinah, berpindah dari tempat di mana muslim tidak dapat menjalankan agamanya (tidak kondusif, terancam) ke tempat yang lebih baik. Pada zaman tersebut umat muslim mulai terancam nyawanya di Mekkah setelah Rasulullah melakukan dakwah secara terang-terangan. Pada masa ini, contoh tempat yang tidak kondusif untuk umat muslim beribadah adalah Palestina dan Suriah, tempat yang memiliki banyak sejarah umat Islam dan nabi-nabi terdahulu. Di Palestina, terdapat kiblat pertama umat Islam, Masjid Al-Aqsha, dan dulu terdapat kerajaan Nabi Sulaiman. Sedangkan Suriah (Syam) juga merupakan tempat yang sering dikunjungi para nabi. Akan tetapi, konsekuensi jika penduduknya berpindah ke tempat yang lebih aman adalah mereka akan kehilangan hak terhadap tanah mereka. Oleh karena itu, pejuang Palestina masih terus mempertahankan tanah umat Islam tersebut sampai tiba waktunya janji Allah terwujud, yaitu kemenangan Palestina, yang juga merupakan salah satu tanda kiamat.

Hijrah juga dapat berarti pindah menjadi pribadi yang lebih baik di mata Allah, berhenti melakukan kebiasaan yang tidak disukai Allah, dan terus melaksanakan perintah Allah.

Wallahu a’lam.

 

Sumber:

Liqo 1 (10 September 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s