Silaturahim

Nasihat Ramadhan #13: Silaturahim


Rizki yang ada keberkahan: tidak habis, membuat hati tenang, mudah diinfakkan, jika untuk makan dan minum memberi energi. Sebaliknya, rizki yang tidak ada keberkahan akan selalu habis, tidak membuat hati tenang, tidak diinfakkan, dan jika dimakan/minum tidak memberikan energi.

Manusia harus seimbang hubungan vertikal (ibadah dengan Allah) dan hubungan horizontal (kebaikan ke sesama manusia).

Di bulan Ramadhan banyak momen untuk merekatkan silaturahim, tidak harus melakukan hal bersama-sama (misal buka puasa bersama), tetapi juga adanya jalinan batin.

“Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni (dosa-dosa) mereka berdua sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad) [1]

Ramadhan syahrul ‘azhiim (agung), mubarak (berkah). Di bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka (banyak jalan menuju surga), pahala dilipatgandakan, pintu-pintu neraka ditutup (jalan menuju neraka dipersempit/ditutup).

Barakah/berkah: sesuatu yang sedikit banyak manfaat

“Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus.” (Muttafaqun ‘alaihi) [3]

Ucapan salam mengandung do’a keselamatan, rahmat/kasih sayang, dan keberkahan. Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wabarakaatuh.

Silaturahim, saling membantu urusan dunia dan akhirat. Silaturahim menyambung/menghimpun kasih sayang.

“Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh ar-Rahman (Allah). Maka sayangilah yang di atas muka bumi niscaya Yang di atas langit pun akan menyayangi kalian.” (HR. Tirmidzi, dinyatakan hasan sahih oleh Tirmidzi dan disahihkan al-Albani) [2]

Maukah kalian aku beritahukan amalan yang lebih utama dari derajat puasa (sunat), shalat (sunat) dan bersedekah?” Para sahabat menjawab, “Ya.” Beliau menjawab, “Yaitu mendamaikan dua pihak yang bertengkar, dan rusaknya hubungan dapat memangkas agama.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi dari Abud Darda’, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2595). [5]

Menyambung silaturahim merupakan ajaran Islam.

{ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا … }

[النساء : 1]

“… Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (Q.S. An-Nisaa’/4: 1)

Hikmah Silaturahim

1. Dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya

“Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturahim.” (Muttafaqun ‘alaihi) [3]

2. Merupakan salah satu ciri orang beriman

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah ia menyambung silaturahmim.” (HR. Al-Bukhari (no.6138), dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu) [4]

3. Mendapat balasan surga

Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itu pun mengulangi perkataannya. Setelah itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”. (Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dari Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu) [3]

4. Silaturahim sebagai bentuk solidaritas sosial

5. Mendapat pertolongan Allah

6. Akan dibersihkan dan disucikan amalnya

“Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus (tali silaturahmi).” (Muttafaqun ‘alaihi). [3]


Sumber:

Ceramah Tarawih, 13 Ramadhan 1437 H / 17 Juni 2016 (Jumat) oleh Ust. Drs. H. Saiful Bahri

[1] https://muslim.or.id/1662-keutamaan-berjabat-tangan-ketika-bertemu.html

[2] https://muslim.or.id/1531-tiga-landasan-utama-bag-02.html

[3] https://khotbahjumat.com/2387-pentingnya-menyambung-silaturahmi.html

[4] https://almanhaj.or.id/3517-wasiat-rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-kepada-abu-dzar-al-ghifari.html

[5] https://yufidia.com/3453-fikih-perdamaian-shulh-bagian-1.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s