Keluarga Sakinah

Nasihat Ramadhan #6: Keluarga Sakinah


Sakinah artinya kedamaian, ketentraman, ketenangan, kebahagiaan.

Rasulullah saw. mengajarkan bertemunya dan berkumpulnya pasangan laki-laki dan perempuan harus melalui prosesi sakral, yaitu pernikahan. Salah satu tujuan pernikahan adalah terbentuknya keluarga bahagia.

Pernikahan adalah ibadah, seharusnya mengantarkan pasangan ke kebahagiaan dunia, dan tentunya berdampak pada kebahagiaan akhirat.

Untuk mewujudkan keluarga sakinah, perlu ada usaha yang meliputi usaha pra-nikah dan pasca-nikah.

Usaha pra-nikah

Berdoa

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا …

{الفرقان : 74}

“… Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. Al-Furqaan/25: 74)

Kriteria memilih calon pasangan hidup

  • suami: lelaki yang bisa menjadi seorang imam yang baik
  • istri: wanita yang bisa menjadi madrasah bagi anak-anak

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim) [1]

Untuk mendapatkan wanita dengan keempat kriteria tersebut (harta, kedudukan, paras, dan agama yang baik) tentu sangat sulit ditemukan. Kalau hanya lihat kecantikan, kecantikan wajah relatif dan mudah berubah, Kalau hanya lihat kekayaan, harta bisa bangkrut/habis, kecintaan akan mudah hilang, begitupun kedudukan suatu saat bisa hilang. Kalau hanya lihat nasab, semakin dewasa seseorang tidak hanya bergantung nama besar orang tua. Agar bisa terbentuk keluarga sakinah, yang paling utama adalah memilih yang baik agamanya.

Usaha pasca-nikah

“Ibn umar Radhiyllahu anhuma berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) dari hal hal yang dipimpinnya.” (Muttafaqun ‘alaihi) [2]

Dalam keluarga inti, minimal ada 3 komponen, yaitu suami (ayah), istri (ibu), dan anak-anak. Masing-masing anggota keluarga punya hak dan kewajiban.

1. Kewajiban suami

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

{التحريم : 6}

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Q.S. At-Tahriim/66: 6)

Menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Anggota keluarga harus punya ilmu untuk beribadah kepada Allah. Suami berkewajiban untuk mendidik istri (jika suami sudah menguasai ilmu agama dengan baik), dan mengajak istri dan anak-anak untuk datang ke kajian agama. Yang perlu diperhatikan dalam mendidik istri dan anak, yaitu tidak langsung memarahi istri/anak ketika melakukan kesalahan, melainkan dinasihati secara baik-baik. Dalam mendidik, suami tidak boleh menyakiti istri dan anak-anaknya. Suami juga harus selalu bersikap adil pada seluruh anggota keluarganya.

2. Kewajiban istri

Hak suami terhadap istri sangat besar. Kewajiban utama istri adalah menaati suami (kecuali dalam maksiat dan mendurhakai Allah). Rasulullah SAW bersabda:

“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya” (HR. Tirmidzi) [3]

 

Wallahu A’lam.


Sumber:

Ceramah tarawih, 6 Ramadhan 1437 H / 10 Juni 2016 (Jumat) oleh Ust. Dr. H. Mardiyanto

[1] https://muslim.or.id/657-memilih-pasangan-idaman.html

[2] https://almanhaj.or.id/2473-antara-kerja-dan-mendidik-anak.html

[3] https://almanhaj.or.id/2080-ketaatan-isteri-kepada-suaminya.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s