Aktualisasi Nilai-Nilai Shalat

Nasihat Ramadhan #5: Aktualisasi Nilai-Nilai Shalat


(قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2

{المؤمنون : 1-2}

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya,” (Q.S. Al-Mu’minuun/23: 1-2)

Khusyuk mempengaruhi ketahanan dan perilaku pelakunya. Contohnya ketika Ali bin Abi Thalib tertusuk tubuhnya dengan panah, dan sulit dicabut serta menyakitkan, kemudian diperintahkan agar panah itu dicabut ketika Ali shalat. Ali tidak merasakan sakitnya panah dicabut karena begitu khusyuk shalatnya.

(وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9) أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11

{المؤمنون : 9-11}

“…serta orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi (surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya” (Q.S. Al-Mu’minun/23: 9-11)

Shalat khusyuk dapat menghindarkan dari perilaku nista dan munkar.

(45) …إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ …

{العنكبوت : 45}

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (Q.S. Al-‘Ankabuut/29: 45)

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat, lantas shalat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan munkar, maka ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.” (Dikeluarkan oleh Ath Thobari dengan sanad yang shahih dari jalur Sa’id bin Abi ‘Urubah dari Qotadah dari Al Hasan) [1]

(60) وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

{غافر : 60}

“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keaadaan hina dina'” (Q.S. Al-Mu’min/Ghafir/40: 60)

Allah senantiasa mengabulkan do’a hamba-hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Berdoalah kepada Allah agar kita dapat khusyuk dan mengimplementasikan shalat ke kehidupan sehari-hari.

Mengapa shalat dapat mencegah kemunkaran? Ketika shalat, kita merasa diawasi Allah. Jika berdampak pada kehidupan kita sehari-hari, maka kita akan senantiasa merasa diawasi Allah dalam setiap perbuatan yang kita lakukan, sehingga dapat terhindar dari perbuatan tercela.

Ihsan (berbuat baik): Beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika tidak dapat merasa melihat-Nya, sesungguhnya Allah melihat kita.

Shalat membangun keseimbangan ukhrawi dan duniawi. Shalat diawali takbiratul ihram dan diakhiri salam. Shalat menunjukkan bahwa kita harus berbuat baik kepada Allah, dan sesama manusia sebagai hamba-Nya.

(إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (19) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (20) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (21) إِلَّا الْمُصَلِّينَ (22) الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ (23

{المعارج : 19-23}

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, …” (Q.S. Al-Ma’aarij/70: 19-23)

Orang yang menegakkan shalat berkeluh kesah hanya kepada Allah.

Shalat mengajarkan nilai tawadhu’ (rendah hati) dan rendah diri di hadapan Allah. Ketika sujud, bagian teratas tubuh kita, yaitu kepala, letaknya sejajar dengan bagian terbawah tubuh kita, yaitu kaki.

Shalat mendidik agar kita hidup bersih, yang tentunya juga akan berdampak pada hidup sehat. Bersih pangkal sehat. Salah satu syarat sahnya shalat adalah suci dari hadas kecil dan besar. Sebelum shalat, kita diwajibkan berwudhu dan disunnahkan bersiwak.

Shalat mengajarkan tata tertib dalam organisasi, bagaimana menjadi imam, bagaimana menjadi makmum. Makmum harus mengikuti imam, jika imam melakukan kebenaran. Kecuali jika imam mendurhakai Allah, tidak boleh diikuti.

“Tidak boleh taat kepada seorang pun dalam berbuat maksiat kepada Allâh Azza wa Jalla (Yang Mahasuci dan Mahatinggi)” (HR. Ahmad) [2]

Paparan di atas menjelaskan bagaimana aplikasi dari shalat dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang perlu diingat, jangan sampai kita menjadi hamba Allah yang selalu shalat, tetapi masih sering melakukan kemaksiatan.

Wallahu a’lam.


sumber:

ceramah tarawih, 5 Ramadhan 1437 H / 9 Juni 2016

[1] https://rumaysho.com/3773-benarkah-shalat-dapat-mencegah-dari-perbuatan-keji-dan-mungkar.html

[2] https://almanhaj.or.id/4223-berbakti-kepada-kedua-orang-tua-dan-haram-durhaka.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s